Broiler – Dhanang Closed House http://dhanangclosedhouse.com Peternak Maju Bersama Closed House Thu, 14 Jun 2018 16:59:50 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.9 97788614 Lantai Kandang Ayam Modern http://dhanangclosedhouse.com/lantai-kandang-ayam-modern/ http://dhanangclosedhouse.com/lantai-kandang-ayam-modern/#comments Thu, 11 Jan 2018 00:30:57 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=2124 Pendahuluan Lantai Kandang Ayam Modern Ada beberapa tipe lantai kandang ayam modern untuk broiler (pedaging/potong) yang dipakai peternak di Indonesia. Yaitu lantai tanah/semen (Deep Litter), berbilah/berlubang (All-Slat) dan kombinasi (Slat and Litter). Lantai tanah/semen adalah kandang yang lantainya dari tanah dipadatkan atau disemen dan di atasnya ditabur bahan alas lantai seperti sekam. Lantai berbilah, adalah ...

The post Lantai Kandang Ayam Modern appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Pendahuluan Lantai Kandang Ayam Modern

Ada beberapa tipe lantai kandang ayam modern untuk broiler (pedaging/potong) yang dipakai peternak di Indonesia. Yaitu lantai tanah/semen (Deep Litter), berbilah/berlubang (All-Slat) dan kombinasi (Slat and Litter).
Lantai tanah/semen adalah kandang yang lantainya dari tanah dipadatkan atau disemen dan di atasnya ditabur bahan alas lantai seperti sekam. Lantai berbilah, adalah kandang dibuat model panggung yang lantainya dibuat jajaran kayu dengan celah antar kayu sekitar 1-2 cm sehingga kotoran jatuh ke tanah, sedang kombinasi yaitu kandang sebagian lantai tanah dan sebagian panggung biasanya digunakan di pembibit ayam (breeding farm).

lantai kandang ayam modern

Pada kandang berlantai tanah biasanya lantai ditaburi/dialasi dengan sekam. Ketebalan yang diperlukan antara 5 s/d 10 cm, dan digunakan untuk memelihara ayam broiler dari umur 1 hari sampai panen. Jika basah/lembab sekam dibalik atau diganti yang baru. Pada kandang panggung lantai dialasi plastik/terpal dulu. Setelah itu baru ditebar sekam dan digunakan untuk memelihara ayam dari umur 1 s/d 14 hari. Hal ini untuk menghindari kaki ayam terperosok. Setelah itu alas plastik/ terpal dikeluarkan sehingga kotoran jatuh ke tanah. Untuk bahan alas lantai kandang ayam modern yang biasa digunakan peternak adalah sekam. Mungkin alasan utama adalah murah dan mudah didapat. Nmun karena sekam sekarang bersaing dengan usaha industri batu bata, maka harga meningkat. Dan sampai peternak di Kedu Temanggung kesulitan sekam dan mengancam kelangsungan usaha peternakannya.

Bahan Lantai Kandang

Sebenarnya peternak dapat menggunakan bahan alas lantai kandang ayam modern (litter) tidak harus sekam, boleh dari bahan lain karena hakikatnya bahan yang dipakai harus mempunyai daya serap terhadap air tinggi. Menurut Brake (1992) bahwa bahan litter yang baik adalah bahan yang :

  1. bersifat absorben (Absorben adalah mempunyai daya serap terhadap air tinggi sehingga kotoran cepat kering)
  2. bebas debu (Bebas debu maksudnya jika sudah ditempatinya ayam tidak mengeluarkan debu yang dapat menyebabkan iritasi pada mata ayam maupun pekerja)
  3. sukar untuk dimakan ayam (Sukar untuk dimakan ayam maksudnya ukuran partikel bahan litter lebih besar dibanding ukuran partikel pakan terutama di awal pemeliharaan)
  4. tidak beracun (Tidak beracun maksudnya jika bahan litter ada yang termakan oleh ayam tidak akan mematikan ayam)
  5. murah/berlimpah (Murah dan mudah didapat maksudnya bahan yang dipakai tidak menjadikan biaya produksi jadi meningkat tajam dan ketersediaannya kontinyu)
  6. mudah diangkut/diganti (Mudah diangkut/diganti maksudnya jika di dalam kandang litter basah/lembab sekam dibalik atau diganti yang baru)

lantai kandang ayam modern

Sudah banyak penelitian bahan untuk lantai kandang ayam modern seperti, sekam dilaporkan oleh Haque dan Chowdhury (1994), potongan kertas dan tatal kayu halus dilakukan oleh Lien et al (1992), kulit kacang oleh Lien et al (1998) semua hasilnya tidak mempengaruhi karakteristik produksi dan kesehatan, kematian, berat badan, konsumsi pakan, konversi pakan, hasil karkas, kasus lepuh dada ataupun kelainan kaki pada ayam broiler. Bahan selain sekam semestinya dapat digunakan oleh peternak kita untuk bahan litter. Seperti : serbuk gergaji, serpihan kayu, kulit kacang, kulit kedele, tongkol jagung, ampas tebu, potongan jerami, perca kertas dll. Karena bahan ini di Indonesia ada dan berlimpah.

Ini artinya peternak tidak perlu memaksakan memakai sekam untuk bahan litter. Tetapi bisa diganti bahan lain jika sekam sulit dan mahal. Atau peternak dapat menggunakan bahan litter secara bercampur (mixing materials), lebih baik lagi jika ditambah kotoran sapi kering, sebab akan meningkatkan kandungan vitamin B12 karena vitamin tersebut tidak dapat disintesa di dalam tubuh ayam.

Maka sebaiknya dan sudah waktunya jika peternak tidak perlu takut untuk bertanya ke Institusi seperti Perguruan Tinggi, Dinas/lembaga terkait jika mempunyai persoalan di dalam usahanya. Sehingga institusi seperti Universitas Gadjah Mada betul-betul universitas kerakyatan tetap dekat dengan rakyat dan hasil penelitiannya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

The post Lantai Kandang Ayam Modern appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/lantai-kandang-ayam-modern/feed/ 3 2124
Ayam Pedaging Berubah, Peternak Harus Improve http://dhanangclosedhouse.com/ayam-pedaging-berubah-peternak-harus-improve/ http://dhanangclosedhouse.com/ayam-pedaging-berubah-peternak-harus-improve/#comments Tue, 05 May 2015 14:00:13 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=1121 Ayam Pedaging Berubah Peternak Harus Improve Secara nyata sifat ayam pedaging menurun atau berubah. Kondisi ideal atau keadaan yang tanpa kendala merupakan hal yang tidak mudah ditemui. Maka banyak faktor yang harus diperhatikan agar pertumbuhan ayam pedaging optimal. Tidak bisa dengan memakai manajemen peternak masa sebelumnya, manajemen di kandang menuntut peternak selalu menemukan hal yang ...

The post Ayam Pedaging Berubah, Peternak Harus Improve appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Ayam Pedaging Berubah Peternak Harus Improve

Secara nyata sifat ayam pedaging menurun atau berubah. Kondisi ideal atau keadaan yang tanpa kendala merupakan hal yang tidak mudah ditemui. Maka banyak faktor yang harus diperhatikan agar pertumbuhan ayam pedaging optimal. Tidak bisa dengan memakai manajemen peternak masa sebelumnya, manajemen di kandang menuntut peternak selalu menemukan hal yang baru dan lebih baik.

Technical Support di Tim Marketing PT Sierad Produce Tbk Sidoarjo Drh Mulyanto menyatakan, penampilan ayam pedaging sudah berubah seiring dengan kemajuan rekayasa genetika yang diterapkan untuk mencipta bibit ayam pedaging unggul. Pendeknya, ayam pedaging modern telah menjadi hasil rekayasa genetika dengan tingkat pertumbuhan tubuh yang cepat.

Dari tahun ke tahun sifat ayam pedaging terus menyesuaikan perubahan ini. Guna mengoptimalkan kemampuan produksi ayam pedaging ini, sayangnya telah mengorbankan bagian lain, seperti sistem kekebalan tubuh. “Sistem imunologi akan dikorbankan”, kata Drh Mulyanto yang alumnus FKH Unair ini.

Dikorbankannya sistem kekebalan tubuh ini antara lain kondisi penampilan ayam pedaging di lapangan seolah-olah mudah sakit. Ayam menjadi sangat rentan terhadap faktor-faktor pemicu penyakit. Sedangkan penyakit tampak begitu kejam terhadap ayam pedaging yang rentan ini. Tak mengherankan pada saat ini banyak sekali ditemukan manisfestasi penyakit yang tidak dengan mudah dapat didiagnosa, seolah-olah satu penyakit bersembunyi atau saling menutupi manifestasinya dengan penyakit lain.

Ayam Pedaging Berubah Peternak Harus Improve
Ayam Pedaging Berubah Peternak Harus Improve

Peternak harus selalu ‘improve’, menyesuaikan dan sampai mendapatkan kecocokan dengan kondisi terbaru”, ujar Drh Mulyanto. Kalau perusahaan pembibitan menetapkan standar-standar tertentu dalam pemeliharaan ayam, sesuai dengan masa-masa hidupnya seperti awal pemeliharaan, masa pertumbuhan dan masa panen, penerapan di lapangan, “Lebih membutuhkan kemampuan manajerial dari peternak”, tegasnya.

Lebih baik pada aplikasi di lapangan ini berarti peternak lebih disiplin. Di sisi lain hal ini butuh biaya yang berarti segala penyesuaian di lapangan butuh dana tambahan. Soal penyesuaian di lapangan ini, di antaranya adalah kondisi kandang dan lingkungan kandang, yang berpengaruh sebesar 70 persen bagi keseluruhan pemeliharaan hingga produksi atau panen.

Kalau kebutuhan ayam pada setiap fase terpenuhi, baru peternak boleh berharap peternakan yang dikelola bisa memunculkan potensi genetik. Sebab, meski secara genetik bagus, sifat unggul ini baru bisa muncul bila ayam diberi tempat dan kesempatan sesuai dengan kebutuhan genetiknya”, tegas Drh Mulyanto.

Menurutnya yang dimaksud dengan tempat berhubungan dengan peralatan di kandang. Pada saat awal pertumbuhan di mana ayam membutuhkan pemanas buatan untuk pengindukan, “Kalau selama ini cukup dengan kompor minyak, sekarang lebih bagus dengan gasolec (pemanas gasolec dengan bahan bakar gas dalam tabung elpiji)”, katanya.

Drh Mulyanto pun menambahkan, kalau pemanas pengindukan buatan ini dulu punya perbandingan 1 pemanas untuk 1000 ekor DOC, dengan gasolec sekarang 1 untuk 500-700 ekor. “Kalau dulu kemampuan menawar penggunaan alat ini dikedepankan, dengan kondisi bibit yang sekarang semakin berkurang kemungkinannya, yang berarti peternak akan berusaha sebisa mungkin menyediakan”, ujarnya. Jelas, untuk penyediaan ini peternak mesti menyediakan dana.

Salah satu tindakan praktis yang butuh penyesuaian lain adalah ketika ayam mencapai umur minggu ketiga, atau berumur 14-21 hari. Pada saat umur ini, ayam mengalami masa di mana sistem kekebalan dari induk sudah minimal, sementara kekebalan aktif dari tubuh ayam sendiri baru dimulai. Tak heran sistem kekebalan tubuh yang rendah ini bisa mengakibatkan ayam mudah terserang penyakit.

Pada saat ayam berumur 3 (tiga) minggu ini, pertambahan berat badan dan konsumsi pakannya cukup tinggi. Lagi pula, minggu ke tiga merupakan masa di mana ayam sering mengalami stres akibat perlakuan vaksinasi, turun sekam, dan perubahan perlakuan dari pemakaian pemanas hingga tanpa pemanas.

Apa yang dapat dilakukan peternak dengan kondisi lapangan seperti ini ?. Di antaranya, peternak dapat melakukan vaksinasi pada pagi hari atau sore hari, guna mengurangi stres pada ayam. Selanjutnya memberikan larutan gula 2 persen selama 2 jam, ditambah vitamin anti stres pada saat sebelum dan sesudah vaksinasi atau saat turun sekam.

Larutan tersebut berfungsi guna membantu memperbaiki sistem kekebalan. Peternak seyogyanya tidak mengubah dan membatasi pakan pada periode ini lantaran dapat menambah stres ayam. Tentu saja udara mesti selalu dijaga agar kualitasnya selalu baik. Dan tak lupa peternak mesti meningkatkan biosecurity kandang.

Akhirnya, Drh Mulyanto memberi ketegasan, “Kandang harus lebih bagus, ventilasi harus lebih bagus, meski sekarang hal ini tidak mudah didapatkan tetap tidak boleh seperti kondisi peternakan sebelumnya”.

Hanya dengan cara ‘improve’ yang berarti memperbaiki, memajukan, mengembangkan, memanfaatkan semua hal yang baik guna perbaikan dan pengembangan seperti yang demikian, peternak dapat mengimbangi upaya-upaya perbaikan genetik ayam pedaging yang telah dilakukan para ahli guna menghasilkan produksi terbaik.

Sumber : Infovet, Agustus 2010

Ayam Pedaging Berubah Peternak Harus Improve
Ayam Pedaging Berubah Peternak Harus Improve

The post Ayam Pedaging Berubah, Peternak Harus Improve appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/ayam-pedaging-berubah-peternak-harus-improve/feed/ 1 1121
Beruntung Dengan Kandang Closed House ( bagian 1 ) http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-closed-house-bagian-1/ http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-closed-house-bagian-1/#comments Fri, 03 Apr 2015 16:00:23 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=987 Beruntung Dengan Kandang Closed House ( bagian 1 ) Industri perunggasan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern. Kandang Closed House dipilih karena memberikan keuntungan lebih bagi mereka, peternak akan beruntung dengan membangun kandang Closed House. Negara Indonesia masih potensial untuk pengembangan kandang Closed House ayam ras, mengingat ...

The post Beruntung Dengan Kandang Closed House ( bagian 1 ) appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Beruntung Dengan Kandang Closed House ( bagian 1 )

Industri perunggasan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern. Kandang Closed House dipilih karena memberikan keuntungan lebih bagi mereka, peternak akan beruntung dengan membangun kandang Closed House.

Negara Indonesia masih potensial untuk pengembangan kandang Closed House ayam ras, mengingat konsumsi masyarakat yang kian tumbuh. Sierad Produce, Tbk. sebagai salah satu perusahaan integrator perunggasan sigap melihat peluang di depan mata. Menurut Dhanang Purwantoro ST, Area Manager East Indonesia PT. Sierad Industries, dua tahun ini Sierad gencar membangun kandang Closed House di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, baik internal form maupun kemitraan, baik breeding farm maupun commercial farm. Internal farm banyak di daerah Jawa Barat.

Sierad merupakan leader di bisnis unggas Closed House ini. Berbicara proporsi Open House dan Closed House, Dhanang mengatakan bahwa angka nasional peternak pemakai Closed House baru sekitar 10%. Sedangkan dalam konteks Sierad, dikatakan A. Junaidi, S.Pt, selaku Head Region Kemitraan Sierad Produce Jawa Tengah-DIY yang diiyakan oleh drh. Hery Budi Karyono selaku Business Unit Head Commercial Farm Indonesia PT. Sierad Produce, mitra (plasma) Sierad ada sekitar 34% yang sudah menerapkan teknologi Closed House.

Kandang Closed House - Dhanang Closed House Properties

Hery mengungkapkan bahwa Closed House optimal pada wilayah dengan ketinggian 200-400 mdpl. “Kalau open house searah angin, sedangkan Closed House searah sinar matahari“. Alih teknologi Closed House diberikan melalui pelatihan bagi anak kandang di kandang mitra Sierad di bilangan Losari, Magelang milik Wahyu Pratomo yang sudah menggunakan CCTV untuk memantau anak kandang. Ada semacam ujian, sehingga pihak Sierad dapat memutuskan layak tidaknya anak kandang untuk operasionalisasi Closed House.

Keunggulan Closed House di antaranya, umur pemeliharaan lebih pendek, kepadatan (density) lebih padat, mengurangi bau amoniak, dan populasi lalat yang pada Open House sering berbenturan dengan masyarakat, kejadian penyakit minim, kecuali terjadi kecerobohan dalam pemeliharaan alias faktor manusia, seperti tidak disiplin dalam biosekuriti, malas, dan lain-lain. Density 20 ekor per m² dipraktekkan di Jawa Barat karena konsumen menerima bobot ayam 0,8-1 kg. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, density pada angka 15 ekor per m² karena ayam kecil tidak laku, justru yang laku ayam besar.

Adalah Adityo Wibowo, pemilik bisnis bernama Mandiri Agro Sejahtera asal Gombong, Kebumen, Jawa Tengah yang melirik peluang Closed House ayam ras pedaging bermitra dengan Sierad, karena dipicu oleh menurunnya bisnis pupuk organik yang dilakoninya. “Closed House dua lantai ini Desember jadi, akhir Januari 2012 chick in pertama“, aku lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada ini ketika ditemui PI di farm-nya di bilangan Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah (5/7).

Kandang Closed House - Dhanang Closed House Properties

Dikatakan Adit, sapaan akrabnya, kandang Closed House full otomatic itu simple, praktis, mengurangi bau amoniak, dan tidak hanya piara ayam, tetapi diperlukan manajemen orang untuk operasional, serta mortalitas hanya sekira 2-3%. Pada awal-awal pemeliharaan, kandang Closed House milik Adit diisi ayam dengan kepadatan 13,5 ekor per m². “Tiga periode ini density sudah 15,7 ekor per m²“, ujarnya.

Kami kongsi berlima dengan populasi 21 ribu ekor selama 7 periode awal“, aku pemilik kandang Closed House dua lantai berukuran 9m x 95m yang berada, di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, DIY ini. Lamanya bertahan di angka 21 ribu ekor itu, karena biaya banyak tersedot untuk membangun fasilitas yang memadai di sekitar farm, seperti jalan dan penembokan tanggul sungai karena berbatasan dengan kandang. Bahkan warga sekitar kandang sempat protes karena terganggu dengan bau amoniak dari blower yang mengarah ke permukiman warga. Akhirnya ditemukan solusi membuat cerobong pembuangan amoniak mengarah ke atas.

Pada kesempatan itu pula, PI bertemu dengan Trio Plasma Sierad yakni Prof. Dr. Sumiyana, M.Si. selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Aldila Putra Satria Jaya selaku pemilik Firma Ayam Sejahtera, dan Wahyu Pratomo selaku pengusaha konstruktor. Diungkapkan Sumiyana, ia melirik bisnis ayam broiler dengan Closed House karena Sumiyana melihat potensi yang besar pada bisnis perunggasan. “Negara belum memenuhi kebutuhan daging (bagi rakyatnya, red). Bisnis ayam broiler masih feasible dan return positif“, tegasnya.

Aldila Putra Satria Jaya mengatakan bisnis ayam sangat prospek. Diungkapkan bahwa periode pemeliharaan selanjutnya kepadatan menjadi 22 ribu, kemudian sampai dengan periode ke-13 kepadatannya sudah 25 ribu ekor. Closed House membutuhkan lima buah pompa air, dan setiap lantai terdapat 110 lampu. Selama pemeliharaan, Aldila mengganti bola lampu setiap 4 bulan dan lima buah pompa air. Kandang Closed House membutuhkan 3-4 anak kandang setiap lantainya. Perlu tambahan 4-5 orang ketika DOC datang, pelebaran sekat, dan panen.

Kandang Closed House Bagian Dalam - Wates, Yogyakarta

Sementara itu, menurut Wahyu Pratomo, konstruksi baja konvensional (standar) mampu bertahan hingga 30 tahun, karena sangat minim bersentuhan zat kimia dan air, serta kotoran ayam. Sedangkan kalau dengan konstruksi kayu, hanya dapat bertahan kurang dari 5 tahun. Nilai investasi kandang Closed House dengan konstruksi full baja standar beserta kelengkapan equipment-nya sekitar Rp. 60.000 per ekor. Lantai kandang diberi alas terpal, sehingga kotoran menempel di terpal. Ketika selesai memanen ayam, anak kandang tinggal menarik terpal. “Closed House optimal pada daerah dengan kelembaban rendah, seperti di Kulon Progo contohnya“, ungkap pemilik Closed House tiga lantai berukuran 16m x 106m mitra Sierad di losari, Magelang, Jawa Tengah berkapasitas 75 ribu ekor ini.

Pengalaman Peternak Closed House

Menurut Sumiyana, balik modal Closed House miliknya ditaksir tidak sampai dua tahun dengan memanfaatkan modal alias full hutang dari perbankan dengan bunga kredit 11%, atau bunga kredit flat 6,25%. Dhanang mengungkapkan, Sierad terus melakukan inovasi, salah satunya tengah membangun Closed House full automatic tanpa sekam di Jawa Timur sehingga kotoran dapat segera dikeluarkan dari dalam kandang dengan mesin. Sementara kandang Closed House milik Adit dan kawan-kawan masih menggunakan sekam, sehingga ketika ada kotoran yang menggumpal segera diambil, kemudian dilapisi sekam baru.

Mengenai sapronak tidak ada permasalahan yang berarti, karena kandang Closed House dapat disetel sesuai keinginan kita. Ayam pun merasakan kenyamanan di dalam Closed House, karena kesehatan ayam terkait dengan suplai oksigen yang sudah standar, sehingga mortalitas kecil. Rata-rata mortalitas ayam strain Cobb yang digunakan Sierad pada Closed House hanya sekitar 1%. Dalam setahun, peternak bisa memelihara ayam broiler sebanyak 7.5 sampai 8 kali. “IP tertinggi pada angka 398. Secara umum, IP mitra kita pada kisaran 350-398“, akunya.

Bersambung (Beruntung Dengan Kandang Closed House (bagian 2))

The post Beruntung Dengan Kandang Closed House ( bagian 1 ) appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-closed-house-bagian-1/feed/ 1 987
Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/ http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/#comments Tue, 31 Mar 2015 03:30:58 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=946 Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi, Closed House dipercaya jadi solusi Dengan pertumbuhan ekonomi 6,7% di 2011, industri perunggasan di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh. Di 2012 ini, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) mengestimasi konsumsi pakan ternak akan mencapai angka 12,3 juta ton, tumbuh 9,8% dari tahun lalu. Modernisasi demi efisiensi dan produksi tinggi menjadi sangat penting. ...

The post Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi, Closed House dipercaya jadi solusi

Dengan pertumbuhan ekonomi 6,7% di 2011, industri perunggasan di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh. Di 2012 ini, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) mengestimasi konsumsi pakan ternak akan mencapai angka 12,3 juta ton, tumbuh 9,8% dari tahun lalu. Modernisasi demi efisiensi dan produksi tinggi menjadi sangat penting.

Dari angka produksi tersebut, 98% adalah pakan unggas dengan rincian 45% broiler (ayam pedaging), 44% layer (ayam petelur), 9% breeder (ayam pembibit). Sementara angka dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) produksi DOC (anak ayam umur sehari) broiler pada 2012 diestimasi mencapai 1.961.000.000 ekor, dan DOC layer 83.113.000 ekor. Jumlah DOC broiler meningkat 18% dari angka 2011, sementara jumlah DOC layer tidak ada kenaikan karena ada gangguan produksi di breeder 5-10 %.

Meski tumbuh positif, industri perunggasan tanah air dinilai masih lemah dalam hal efisiensi dan daya saing. Ini diutarakan dengan nada pengakuan oleh Sudirman, Ketua GPMT. Di sebuah diskusi perunggasan di Kementerian Pertanian, ia mengatakan industri perunggasan Indonesia harus mendongkrak efisiensi dan daya saing. Salah satunya dengan modernisasi dari hulu hingga ke hilir. Mengadopsi teknologi adalah salah satu kunci utama meraih target efisiensi. Dan di hulu, pilihan Closed House (kandang tertutup) menjadi keniscayaan sebagai bentuk modernisasi demi efisiensi untuk memenuhi tuntutan pasar, memenangi persaingan, dan menyiasati tekanan perubahan iklim.

Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi

 

Sudirman mengamati, sejak 5 tahun terakhir, tren investasi Closed House tumbuh dengan sangat cepat. “Ini menggembirakan, banyak sekali peternak yang membangun Closed House atau mengkonversi kandangnya menjadi kandang yang lebih modern”, katanya.

A Nirwan, General Manager PT Gemilang Citra Indo, produsen peralatan dan kandang unggas menyampaikan keterangan serupa. Meski breeding masih mendominasi jumlah kandang bertipe Closed House, kata Nirwan, 5 tahun belakangan pertumbuhan investasi Closed House untuk peternakan broiler komersial tumbuh signifikan. Ia menyebut, wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat adalah yang terbanyak. Sinyalemen lain positifnya pertumbuhan Closed House di Indonesia, menurut dia adalah berdatangannya produsen peralatan dan kandang asal China dan Taiwan.

Dimintai analisisnya, pakar agribisnis perunggasan Arief Daryanto mengistilahkan, industri perunggasan tengah mengalami “Expansionary Mode On” atau masa perkembangan dan perluasan. Arief menyebut data, ”Di 2011 Charoen Pokphand meningkatkan kapasitas DOC sebesar 18%, Japfa 16%, Malindo 21%, dan Sierad 38%“. Dengan penambahan kapasitas DOC sebesar itu, simpul Arief, bisa dihitung berapa banyak kebutuhan Closed House.

Apa yang diungkapkan Arief sejalan dengan data Nirwan. “Tahun lalu permintaan membangun full Closed House atau sekadar modifikasi sedang tinggi-tingginya. Di 2011, pertumbuhan penjualan kami lebih dari 5“, ungkapnya. Di 2012, Nirwan memprediksi tingkat investasi Closed House akan lebih bagus dibanding 2011. “Trennya bagus, apalagi rupiah menguat“, ujarnya optimis.

Investasi Closed House di Level Peternak

Salah satunya, adalah kandang broiler komersial milik Wahyu Pratomo peternak mitra binaan PT Sierad Produce (Sierad) yang berlokasi di Losari, Jawa Tengah. Closed House berlantai 3 dengan ukuran 16m x 106m ini mampu dimuati hampir 70 ribu ekor broiler, dan sudah chick-in (masuk DOC/anak ayam umur sehari) perdana Juni 2012 lalu. Closed House di Losari ini merupakan kandang ke-3 milik Wahyu dengan menganut sistem full automatic (serba otomatis sepenuhnya).

Kepada TROBOS Wahyu mengaku, kali ini ia menggelontorkan dana tak kurang dari Rp. 4 miliar. Biaya kandang dan peralatan disebut Rp. 55 ribu per ekor, di luar lahan. Dan ia melengkapi kandang dengan 8 kamera CCTV (TV pengawas jarak jauh) di bagian dalam dan luar kandang, serta menggunakan baby chick (tempat pakan DOC) yang harganya 2 kali lipat wadah pakan konvensional, dengan alasan efisiensi. Sementara untuk Closed House pertama plus ke-2 di Purworejo yang berkapasitas total 44 ribu ekor, nilai investasi keduanya hampir Rp. 2 miliar.

Dhanang Purwantoro, Sales Area Manager PT Sierad Industries, mengklaim kandang broiler komersial milik Wahyu di Losari itu adalah yang pertama di Indonesia dengan sistem serba otomatis dan dipantau menggunakan CCTV. “Di mana pun pemilik bisa mengontrol kandangnya”, ungkap Dhanang. Recording (pencatatan) performa budidaya dibuat online. Bisa diakses oleh pemilik kandang, tim kemitraan Sierad, teknisi kandang dari PT Sierad Industries, dan pihak manajemen pusat Sierad. “Sepanjang ada akses internet, pihak-pihak itu bisa memantau“, timpalnya.

Di Purbalingga, Adityo Wibowo, juga peternak broiler mitra binaan Sierad, tak kalah ambisius. Bangunan lama berupa gudang disulap jadi Closed House bersistem serba otomatis. Berukuran 18m x 62m, 2 lantai, dan berkapasitas 30 ribu ekor. Bila ditotal, peternak muda ini telah merogoh kocek Rp. 900 juta untuk modifikasi itu.

Sementara itu, Tri Hardiyanto Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengakui, investasi Closed House yang serba otomatis dan canggih di anggotanya masih sangat sedikit. “Ada, tapi tak banyak“, ujar Tri. Tapi ia berkilah, ini bukan berarti peternak Gopan tidak melek teknologi perkandangan modern. “Kami lebih ke arah investasi tepat guna. Setingkat demi setingkat dalam menerapkan teknologi modern yang ada. Sebagai contoh, memberi sentuhan teknologi menggunakan blower (kipas) pada Open House (kandang terbuka) atau modifikasi ke Closed House tanpa cooling pad“, beber dia. Pasalnya, imbuhnya, selain modal, Closed House mutlak diiringi cara berpikir yang modern.

Di peternakan layer komersial, teknologi Closed House juga diserap oleh Eko Yudi Purwanto. Eko adalah pengelola peternakan Rossa Farm yang berlokasi di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Jarak antar kandang satu dengan kandang berikutnya dalam satu peternakan dan dengan peternakan lain demikian rapat memaksa Eko me-modern-kan kandang-kandang layernya. Meski belum full Closed House, Eko mengadopsi prinsip-prinsip Closed House, dan secara bertahap ia mengaplikasikan teknologi demi efisiensi dan kenyamanan ayam-ayamnya. Di kandangnya Eko mengadopsi tipe tunnel (seperti terowongan) untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.

Closed House di Level Korporasi

Sementara di Jawa Barat, setahun lalu, PT QL Trimitra yang didukung QL Resources Berhad, korporasi asal Malaysia menanamkan dana miliaran rupiah untuk Closed House ayam petelur komersial. Semua peralatan dan sistemnya serba otomatis dan canggih. Pengambilan telur dan pembuangan feses pun sudah menggunakan conveyor. Cecep Mochamad Wahyudin yang Pimpinan PT QL Trimitra menginformasikan, populasi layer komersial perusahaannya 1,6 juta ekor dengan produksi telur per hari 15 ton.

Di korporasi besar, Closed House tampak seperti satu paket, di level breeding dan begitu pula di level company farm yang memelihara broiler atau layer komersial. Sebagai contoh PT Ciomas Adi Satwa (Ciomas). Informasi Imam Wahyudi, Senior Vice President Head of Broiler Division Ciomas, sekitar 90% company farm Ciomas sudah menggunakan Closed House meski tipenya berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari semi Closed House hingga Full Closed House.

Begitu juga dengan Sierad. “Pasti, Level On-Farm (budidaya) Sierad semuanya sudah difasilitasi Closed House”, tutur Sudirman FX yang juga direktur Sierad. Sedangkan kemitraannya, di Jawa Tengah saja, info Dhanang, tahun ini 20%-nya menggunakan Closed House. Bahkan untuk menggenjot konversi kandang ke Closed House bagi mitranya di seluruh Indonesia, Sierad Industries menggandeng perusahaan China yang bisa membuat Closed House dengan dana terjangkau.

Efisiensi atau Mati

Menurut Sudirman, yang tidak efisien pasti mati. Sebab proses evolusi dan struktur biaya produksi terus berubah dari tahun ke tahun. “Jadi perubahan pola pemeliharaan unggas dari konvensional ke semi-modern dan modern adalah tuntutan efisiensi, bukan gaya hidup”, tuturnya.

Wahyu bahkan berpendapat, peternak yang tidak mau mengarah ke Closed House secara alami akan tergilas. Hukum bisnisnya, yang tidak mau berubah akan tersingkir. Sebab “pertempuran” saat ini dan ke depan ada di efisiensi. Dan Closed House memberikan jaminan efisiensi. Dari kepadatan populasi saja, Closed House mampu lebih efisien. Kandang open maksimal di angka 10 ekor/m², sementara kandang tertutup mampu 15 ekor/m². Belum penghematan lainnya, dari pakan, periode siklus, sampai kesehatan ayam. “Cepat atau lambat dan tidak bisa tidak ke depan peternak akan memilih Closed House. Catatannya, teknologi tinggi ini perlu dibarengi cara berpikir dan manajemen yang baik”, katanya.

Aneng Lim yang Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia sependapat bahwa Closed House menjanjikan efisiensi. Bahkan kata Aneng, Closed House dengan menggunakan tipe cage akan jauh lebih efisien. “Pada broiler, kepadatan kandang bisa 3,5 kali lipat dari tipe litter. Panen 2 hari lebih awal. Kesehatan terjaga, sehingga produksi pun lebih optimal”, ungkapnya. Jadi, pesan Aneng, industri perunggasan Indonesia jangan terus tertinggal. Investasi di Closed House adalah salah satu siasat untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Eko pun satu suara tentang efisiensi yang diberikan Closed House. Dengan Closed House, Eko mendapatkan efisiensi pakan yang lebih baik. “Selain itu produktivitas tinggi, kematian dan deplesi rendah, dan berat badan saat afkir bagus. Intinya dengan Closed House ayam nyaman, peternak tenang”, tuturnya.

Efisiensi juga terkait dengan pengaruh lingkungan. Kata Chandra Brahmantya, Head Internal Production PT QL Trimitra, pengaruh lingkungan seperti perubahan cuaca menuntut penggunaan Closed House. “Closed House kan memang dibuat untuk mengatasi perubahan cuaca yang sangat ekstrim”, cetusnya.

Paparan Imam sejalan dengan pernyataan Chandra. Terangnya, dengan Closed House pengaruh perubahan cuaca dapat dikendalikan oleh peralatan dan sistem yang telah dipasang. Sedangkan pada Open House dibutuhkan usaha yang tinggi untuk mengatasi ketidakteraturan cuaca yang ada. Bila tidak terkendali, fisiologi ayam akan terganggu, lalu stress dan terserang penyakit. Imbasnya efisiensi tak akan tercapai.

Dari sisi preferensi pasar, tutur Abdullah Junaedi dari Sierad, ayam hasil panen dari Closed House lebih diminati karena lebih bersih, memar pada karkas minimal, dan terpenting harganya tak berbeda dengan ayam hasil panen dari Open House. “Apalagi rumah potong ayam yang menuntut ayam dengan keseragaman tinggi dalam jumlah besar. Maka ayam hasil panen dari Closed House-lah pilihannya”, terang Junaedi.

Sumber : Trobos, Juli 2012

The post Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/feed/ 2 946
Efisiensi Closed House (bag 2) http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-2/ http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-2/#comments Thu, 26 Mar 2015 16:30:14 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=931 Efisiensi Closed House Ukuran ideal kandang Closed House. kata Dhanang, lebar 12 m panjang 120 m untuk kapasitas 21 ribu ekor per lantai. “Itu angka optimal, yang paling efisien. Hubungannya dengan kemampuan alat-alat“, terangnya. Untuk daya tahan kandang, dijelaskan dia, mulai melakukan renovasi kecil pada tahun ke-5 untuk beberapa komponen tertentu seperti tirai. Sementara mesin ...

The post Efisiensi Closed House (bag 2) appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Efisiensi Closed House

Ukuran ideal kandang Closed House. kata Dhanang, lebar 12 m panjang 120 m untuk kapasitas 21 ribu ekor per lantai. “Itu angka optimal, yang paling efisien. Hubungannya dengan kemampuan alat-alat“, terangnya.

Untuk daya tahan kandang, dijelaskan dia, mulai melakukan renovasi kecil pada tahun ke-5 untuk beberapa komponen tertentu seperti tirai. Sementara mesin pakan, drinker, kipas, baru di tahun ke-10 perlu perawatan.

Sementara itu, Junaidi menerangkan, kelebihan Closed House adalah keuntungan lebih terukur dan bisa
diestimasikan secara lebih pasti sejak awal. Berbeda dengan kandang terbuka yang risiko gagal panennya masih tinggi. Terlebih fluktuasi cuaca saat ini demikian besar, pertaruhan antara untung atau rugi masih sama besar. “Meski investasinya besar, keuntungan dengan Closed House sepadan, dan kembalinya investasi lebih terukur.” katanya.

Junaidi memberi catatan, adanya perbedaan signifikan antara kandang yang sepenuhnya otomatis dengan kandang yang meski sudah tertutup tetapi masih menerapkan sistem manual untuk peralatan pakan. “Ada signifikansi output ketika sistem kandang ditingkatkan dari terbuka menjadi tertutup, dan dari tertutup manual menjadi otomatis penuh.” paparnya. Biasanya FCR dan umur panen beda, kembali ia merujuk pada tabel komparasi (tabel). Penjelasannya, kendati suhu sudah terkontrol potensi kesalahan manusia masih lebar dan eftsiensi pakan belum maksimal.

Pemahaman peternak pada biaya tak jarang masih perlu dikoreksi. Langkah menekan biaya dianggap sebagai keuntungan. Menghemat dengan jalan mengurangi pakan, tidak menyalakan kipas, mengurangi frekuensi pembersihan sekam, masih kerap ditempuh, padahal dampaknya produktivitas menurun signifikan. “Keuntungan itu adanya di ujung usaha. Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih banyak dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?” tanya Junaidi retorik. Biaya seharusnya dihitung dengan rumus “berapa Rp. dibutuhkan untuk mendapatkan 1 kg ayam“.

Lebih Nyaman

Menurut Deddy, dengan penggunaan Closed House ayam akan lebih nyaman hidup di dalam kandang karena mendapat pasokan udara yang cukup. Dari segi penyakit pun bisa dilokalisasi sehingga tidak menyebar ke kandang lain. “Dengan hidup ayam yang lebih nyaman akan berpengaruh pada mortalitas, kesehatan dan keseragamannya.” terangnya.

Comfort Zone - Efisiensi Closed House
Lebih nyaman – Efisiensi Closed House

Hal yang sama disampaikan Teddy. Dengan Closed House udara yang diproduksi selalu segar karena sirkulasi udara tidak pernah absen untuk membuang panas dan amoniak. Sedangkan kandang terbuka, sirkulasi tergantung lingkungan yang terkadang tidak ada tiupan udara. Sirkulasi yang tidak lancar berpotensi menimbulkan penyakit karena suhu tubuh ayam akan naik akibat amoniak dan panas meningkat, berpusaran di kandang dan tidak keluar. “Closed House bukan hanya untuk menurunkan suhu tapi yang penting mengatur sirkulasi udara.” ujarnya.

Dengan Closed House temperatur dalam kandang lebih stabil dan bisa diatur sesuai kebutuhan. Kebutuhan oksigen dalam kandang lebih terpenuhi dan udara dalam kandang lebih sejuk dan segar karena adanya sirkulasi udara yang baik. Ini dikemukakan Agus.

Lingkungan pun lebih bersih karena tidak banyak lalat dan tidak menimbulkan bau yang mencemari lingkungan. “Yang paling penting mengurangi stress ayam karena tidak kontak langsung dengan lingkungan luar. Dan kepadatan kandang lebih besar yaitu 28 kg per m² atau 15 ekor per m² dibanding kandang terbuka yang 15 kg per m² atau 8 ekor per m².” tuturnya.

Edukasi

Meski sistem Closed House sangat mendukung keberhasilan usaha, menjadi tidak berarti apabila tidak dibarengi manajemen yang baik. Tenaga kandang mutlak menguasai teknis produksi dan teknis alat.

education - Efisiensi Closed House
Edukasi – Efisiensi Closed House

Mencegah kejadian buruk, Junaidi menjelaskan pihaknya menerapkan metode khusus dalam alih teknologi kepada pemilik dan tenaga kandang. Calon tenaga kandang “disekolahkan” selama 2 periode di kandang yang sudah lebih dulu menerapkan sistem ini. “Alih teknologi untuk menekan sekecil mungkin kesalahan operasional, penerapan sebuah teknologi tinggi menuntut disiplin dan komitmen tenaga kandang dalam menjalankan prosedur sehari-hari.” jelas pria yang biasa disapa Juned ini.

Lanjut Junaidi, sumber penyakit ada 2, dari dalam dan dari luar peternakan. Dari dalam tergantung sumber daya manusia dan kualitas manajemen. “Kecerobohan adalah sumber penyakit. Meski kandang sudah closed, apabila aspek ini masih rendah, potensi penyakit besar.” kata dia. Sementara dari luar antara lain lingkungan, suhu, hama, dan lalu lintas. Dan untuk variabei ini di dalam sistem Closed House sudah ditekan jauh, sehingga fokusnya lebih pada aspek dari dalam.

Dhanang mengimbuhkan, saat pemasangan alat di kandang baru, calon tenaga kandang ia wajibkan ikut terlibat agar memahami prinsip kerjanya yang serba otomatis. “Sehingga menguasai betul secara teknis, ayam umur sekian harus bagaimana. Dan di kemudian hari bila terjadi kendala mesin atau kerusakan kecil dapat langsung segera menangani.” jelasnya. Ia menambahkan, dengan operasional yang otomatis, tenaga kandang bisa lebih fokus pada kontrol kondisi status ayam. Keganjilan perilaku ayam lebih cepat terdeteksi sehingga hasil pun lebih maksimal.

Prospektif

Junaidi punya kisaran, saat ini 20% mitra Sierad di Jawa Timur menerapkan kandang Closed House. Sementara Jawa Tengah-Jogjakarta riil 11 %, tetapi diperkirakan dengan proses yang tengah berjalan, sampai akhir tahun ini angkanya akan sama dengan Jawa Timur.

Prospektif - Efisiensi Closed House
Prospektif – Efisiensi Closed House

Tetapi, sekali lagi dikatakan Dhanang, dalam kualitas Jawa Tengah-Jogjakarta lebih maju. Maksudnya, penerapan sistem sekaligus peralatan yang otomatis penuh lebih progresif. Sedangkan wilayah timur cenderung aplikasinya tidak penuh, tetapi modifikasi. Deddy memprediksi penggunaan Closed House di peternakan khususnya broiler dan layer (ayam petelur) komersial akan menjadi suatu kebutuhan dengan semakin banyaknya tantangan. Ditambah peternakan yang sudah mulai dekat perumahan dan harga tanah yang semakin mahal sehingga dengan tanah yang ada kapasitasnya bisa ditingkatkan. “Sistem Closed House makin prospektif, pasarnya masih terbuka karena penggunaan di broiler komersial baru 20-30%, layer komersial bukan yang pullet baru 10%. Sedangkan di breeding (pembibitan) sudah hampir 80%.” ujarnya.

Teddy mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, daya beli masyarakat meningkat permintaan akan penggunaan Closed House akan meningkat pula. Apalagi persoalan penyakit dan pakan yang mahal menuntut pelaku usaha melakukan efisiensi. “Semua mengejar ke efisiensi sekecil apapun untuk menjadi pemenang.” tandasnya.

Titik krusial yang kerap mengganjal tumbuhnya teknologi ini di lapangan adalah kontinuitas pasokan listrik di seluruh wilayah tanah air yang rendah. Kebutuhan listrik tanpa terputus bagi aplikasi terutama yang otomatis penuh bersifat mutlak. Padahal peternak ketika membangun Closed House umumnya sudah harus membangun jaringan listrik yang biayanya tak kecil.

Setya misalnya harus merogoh kocek sedikitnya Rp. 25 juta untuk mengalirkan listrik dengan menambah 3 tiang listrik (togor). Sementara Hari mengaku keluar dana khusus Rp. 68 juta dengan penambahan 11 tiang listrik. Itu pun tak cukup aman. Karena listrik yang kerap padam, peternak harus menyiapkan genset untuk antisipasi. Kalau tidak ingin ayamnya terpanggang kepanasan atau mati kelaparan dan kehausan di saat listrik dari PLN ngadat.

Sumber : Trobos, Juli 2011

The post Efisiensi Closed House (bag 2) appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-2/feed/ 1 931
Efisiensi Closed House (bag 1) http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/ http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/#comments Mon, 23 Mar 2015 16:00:21 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=922 Efisiensi Closed House Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar, dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ? Penggunaan teknologi Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam ...

The post Efisiensi Closed House (bag 1) appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Efisiensi Closed House

Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar, dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?

Penggunaan teknologi Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat.

Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam penerapan Closed House dengan peralatan yang otomatis penuh (full automatic). Secara kualitas menyalip wilayah Jawa Timur yang lebih dulu mengenal dan mengadopsi teknologi tersebut.

Hari Sukmawan, peternak broiler (ayam pedaging) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jogjakarta di 2011 ini memutuskan merenovasi 2 kandang broiler miliknya yang model panggung terbuka (opened) menjadi Closed House (sistem tertutup). Pasalnya, Hari yang mulai beternak bersama beberapa teman dengan populasi awal 5 ribu ekor di 2001 ini, hampir 3 tahun terakhir mengalami kendala yang kompleks.

Sejak total kapasitasnya mencapai 30 ribu ekor per siklus, pengendalian penyakit dan cekaman cuaca ekstrem makin merepotkan, dan serbuan lalat yang dikeluhkan masyarakat saat panen juga makin tinggi. Keuntungan yang diterima pun fluktuatif akibat performa yang dihasilkan juga naik turun.

Pengalaman hampir sama dialami Setya Pudyastiwi. Pemilik kandang yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta ini bercerita, kandang terbuka miliknya yang baru berjalan 5 periode belum sekalipun memberikan untung. Salah satu periode bahkan ia hanya memanen 50% ayam karena dihajar wabah penyakit.

Dan periode terakhir ia mengaku tak habis pikir dengan membengkaknya FCR (konversi pakan). Problem cuaca dan penyakit jadi sandungan utama peternakan yang dikelola bersama anaknya Aldhila Putra Satria Jaya ini, sehingga ia memutuskan beralih ke Closed House. Berlokasi di daerah Kokap, Kulon Progo, kini tengah dalam proses pembangunannya, yang terdiri atas 2 lantai untuk 24 ribu ekor broiler.

Lain kisah Wahyu Pratomo. yang telah membuktikan keuntungan penggunaan Closed House. Peternak broiler di Purworejo ini sejak awal usaha langsung menerapkan teknologi itu dengan kapasitas 23 ribu, dan peralatan otomatis penuh, termasuk melengkapi dengan mini silo untuk mencegah keterlambatan pakan.

Kandang berbendera PT Organik Alam Lestari ini beroperasi terhitung Maret lalu, sudah panen 3 kali dan masuk periode ke-4. Performa yang dihasilkan 3 periode setidaknya menguatkan keyakinan Wahyu atas aplikasi Closed House. Data performa satu siklus dengan panen terbaik yang dicapai Wahyu adalah FCR 1,76; umur panen 29,84; bobot panen 1,99; kematian 1,99; serta IP 387,6. Sementara hasil rata-rata 3 periode dapat dilihat di tabel (tabel 1 – Efisiensi Closed House).

Investasi

Wahyu yang sebelumnya tak pernah kenal bisnis perunggasan, dan lebih akrab dengan bisnis pupuk dan jasa konstruksi ini mengaku mempertaruhkan dana sebesar Rp. 946 juta untuk investasi Closed House. “Saya yakin, setelah dianalisis, modal yang dikeluarkan bakal terbayar lunas dalam waktu 2 tahun. Dengan asumsi target 7 siklus dalam setahun tercapai.” tegas Wahyu kepada TROBOS optimis.

invest - Efisiensi Closed House
Investasi – Efisiensi Closed House

Dijelaskan Wahyu, kandangnya terdiri atas 2 lantai berukuran 16 x 54 m² dengan kepadatan populasi 13,5 ekor per m². Bahkan rencananya akan ditingkatkan jadi 14 ekor per m² karena secara teori 15 ekor per m² dapat diterapkan, dengan catatan dilakukan penjarangan pada umur 28-29 hari. Sebagian ayam dipanen, kisaran bobot di umur tersebut 1,5-1,6 kg.

Hasil memuaskan pada siklus terakhir yang mampu meraup untung Rp. 3.050 per ekornya mendorong Wahyu memperbesar skala usaha. Di lokasi yang sama, ia telah selesai membangun kandang kedua berupa kandang 1 lantai berukuran 23 x 66 m², kapasitas 21 ribu ekor dengan biaya yang diperkirakan lebih kecil dari biaya kandang pertama.

Tidak hanya itu ia pun mengaku tengah mempersiapkan kandang ke-3 di Losari, Brebes dengan kapasitas 75 ribu ekor, 3 lantai ukuran 16 x 100 m² yang diperkirakan akan menelan modal sekitar Rp. 3,6 miliar. “Saya menyesal baru mengenal bisnis ini dengan segala teknologinya September tahun lalu. Kalau saja 10 tahun lalu saya tahu, saya membayangkan punya 600 ribu ayam sekarang.” selorohnya diiringi derai tawa.

Sementara Hari, menyebut biaya yang harus ia siapkan Rp. 400 juta untuk bangunan dan listrik, serta Rp. 400 juta lagi untuk mesin dan alat kelengkapan. “Rancangannya, 2 kandang masing-masing berukuran 10 x 115 m² dengan 2 lantai itu akan mampu meningkatkan populasi 2 kali lipat, menjadi 50 ribu – 60 ribu ekor ayam.” terang Hari.

Sedangkan kandang milik Setya unik. Pembangunannya menggunakan rangka baja ringan. Ia mengklaim ini sebagai uji coba yang pertama di Indonesia dan biaya yang dikeluarkannya 40% lebih rendah ketimbang menggunakan baja. Ia berani mencoba karena pihak kontraktor menjamin kekuatan kandang, dan memberi jaminan penggantian termasuk ayamnya apabila dalam 10 tahun terjadi kerusakan konstruksi.

Setya yakin dana Rp. 1,1 miliar yang dibelanjakannya kali ini akan impas dalam waktu 2,5 tahun. Ia mematok target dengan sistem Closed House, setidaknya ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 3.000 tiap ekor ayam.

Sales Area Manager Jateng-Jatim, PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro ikut menjelaskan Rp. 45 ribu per ekor adalah kisaran biaya atau investasi untuk membangun sebuah Closed House dari nol dengan peralatan otomatis penuh. Angka ini meliputi biaya konstruksi, mesin, dan peralatan otomatis penuh, minus lahan dan listrik. “Tinggal dikalikan jumlah populasi yang diinginkan.” ujar Dhanang. Sementara untuk kandang “up grade” atau modifikasi sebagaimana yang ditempuh Hari, angkanya lebih rendah.

Tabel 1 - Efisiensi Closed House
Tabel 1 – Efisiensi Closed House

Sebagai pembanding, Head of Production area Jateng-DIY, Sierad Produce, Abdullah Junaidi menunjukkan catatan biaya yang dibutuhkan untuk kandang panggung terbuka ada di kisaran Rp. 21 ribu per ekor. Karena investasi yang tidak kecil ini, kebanyakan peternak berpikir ulang untuk menerapkan Closed House. Junaidi sempat mengatakan, perlu hampir 2 tahun sejak ia mengenalkan pada Hari teknologi ini, sampai ia memutuskan merenovasi kandangnya.

Senior Sales Manager PT Sierad Industries, Agus Wahyu S secara terpisah menjelaskan, untuk modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), dan tirai plastik biayanya berkisar Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per ekor. Sementara modifikasi menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), tirai plastik, tempat minum nipple dan tempat makan otomatis biayanya menjadi Rp. 8.000 – Rp. 9.000 per ekor.

Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra punya patokan yang berbeda.
Hitungan dia, modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas cooling pad dan tirai plastik, controller biaya per ekornya baik untuk broiler dan layer di kisaran Rp. 10.000. Biaya itu di luar biaya kandang. “Closed House untuk tiap daerah akan berbeda tergantung kondisi daerah tersebut dan untuk daerah pesisir pantai lebih baik karena kelembabannya lebih rendah.” imbuh Teddy.

Cara kalkulasi berbeda dipunyai President Director PT Berdikari Sarana Jaya, Deddy Kurnia. Menurut dia, modifikasi kandang menjadi Closed House membutuhkan biaya sekitar Rp. 70 juta. Angka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan kipas 5-6 unit dan tirai plastik pada kandang dengan ukuran 10 x 80 m². “Pembuatan Closed House bisa dipertimbangkan dengan dana yang diinginkan peternak karena Closed House ini bisa dibuat mewah sekali atau justru sederhana. Balik modal Rp. 70 juta bisa dikalkulasi dengan mengkombinasikan tempat makan yang dibuatkan semi otomatis.” paparnya.

Efisiensi Closed House

Deddy mengatakan Closed House lebih menguntungkan dari segi efisiensi, performa, dan banyak efek positifnya. Sayang, kompetisi peternak dalam penerapan teknologi Closed House di Indonesia masih rendah sehingga biaya produksi masih tinggi. “Intervensi harga jual produk sulit dilakukan, karena tergantung pasar. Maka yang bisa dimainkan dengan Closed House adalah bagaimana harga pokok produksi (HPP) ini bisa lebih rendah. Investasi awal untuk Closed House mahal, tetapi biaya operasional per ekornya jauh lebih murah.” ia berargumentasi.

business efficiency - Efisiensi Closed House
Efisiensi Bisnis – Efisiensi Closed House

Teddy berpendapat, peternak yang sudah mengerti Closed House dan mampu menjalankan dengan lebih baik serta lebih efisien, akan bisa menghitung profit dari teknologi tersebut. Besarnya investasi, pemakaian listrik, termasuk biaya lingkungan, semua bisa dihitung dan dibandingkan dengan sistem kandang terbuka.

Tapi terkadang peternak masih berpikir, begini saja sudah untung kenapa harus pakai Closed House. Padahal beberapa tahun belakangan ini tantangan di peternakan unggas tidak lebih baik bahkan cuaca tidak mendukung, dan Closed House bisa menjadi solusi.” papar Teddy.

Agus membenarkan, penggunaan Closed House secara umum belum banyak berkembang, khususnya di broiler komersil karena peternak belum mengetahui atau memahami keuntungannya atau terkendala faktor lainnya. Padahal sistem Closed House sangat baik dan cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki temperatur udara tidak stabil. “Dengan sistem Closed House usaha peternakan akan lebih efisien baik di kepadatan populasi, penggunaan pakan, kematian dan keseragaman bobot ayam.” tegasnya.

Dhanang memberikan gambaran Efisiensi Closed House yang dapat dicapai teknologi ini. Dicontohkannya, 1 kandang closed house dengan ukuran tertentu mampu memuat 24 ribu ekor broiler, dan cukup dioperasikan oleh 2 tenaga kerja. Sementara dengan sistem terbuka, untuk ukuran yang sama diperlukan setidaknya 5 kandang, yang masing-masing berkapasitas 5 ribu ekor, dengan 10 tenaga kerja (2 orang per kandang).

Belum lagi kalau lokasinya terpencar, problemnya beragam dengan ancaman yang beragam juga. “Keuntungan atau nilai lebih yang utama dari Closed House adalah kepadatan meningkat kapasitas tampung berlipat efisiensi terdongkrak.” ujarnya.

Bersambung : Efisiensi Closed House (bag 2)

The post Efisiensi Closed House (bag 1) appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/feed/ 1 922
Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/ http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/#comments Sat, 14 Mar 2015 15:27:40 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=823 Bibit memang merupakan pangkal awal dari sebuah produktifitas usaha budidaya peternakan, tidak terkecuali ayam negeri, baik potong maupun petelur. Sebagai komponen hulu, kualitas DOC bisa menjadi kunci yang mana untuk meraih keuntungan jika diusahakan secara komersial. Sebaliknya, bisa menjadi petaka bagi peternak jika kualitas bibit tidak seperti yang diharapkan. Dan sebagai produk hidup, maka sudah ...

The post Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Bibit memang merupakan pangkal awal dari sebuah produktifitas usaha budidaya peternakan, tidak terkecuali ayam negeri, baik potong maupun petelur. Sebagai komponen hulu, kualitas DOC bisa menjadi kunci yang mana untuk meraih keuntungan jika diusahakan secara komersial. Sebaliknya, bisa menjadi petaka bagi peternak jika kualitas bibit tidak seperti yang diharapkan.

Dan sebagai produk hidup, maka sudah pasti kestabilan kualitas tidak akan bisa produsen yang menjamin atau memberi garansi. Sebab terlalu banyak aspek yang berpengaruh terhadap produk bibit itu. Walaupun bagaimana, produsen bibit, relatif sama persis dengan usaha komersial, yaitu memproduksi secara intens dan optimal untuk menghasilkan bibit yang akan dilempar ke pasar. Upaya untuk menghasilkan yang terbaik itu, relatif sama persis dengan peternak komersial yaitu menghasilkan produk yang terbaik, berupa tinggi produktifitas dan efisien, rendah angka kesakitan dan juga rendah angka kematian serta yang pasti menguntungkan.

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif
Illustrasi DOC

Berikut ini hasil investigasi Tim Pemantau Lapangan Infovet yang menggali pendapat dari peternak dan pemasar bibit ayam (DOC).

Menurut Drh Rama Dharmawan, staf pada Balai Besar Veteriner Wates, bahwa bibit merupakan kunci gerbang pembuka keberhasilan sebuah usaha peternakan. Oleh karena itu jika bisa diperoleh sebuah paket bibit ayam (DOC) dengan kualitas baik, maka pintu ruangan besar untuk meraih keuntungan terbentang luas.

“Secara teoritis dan memang seharusnya begitu, bahwa produsen sudah diberi rambu untuk memproduksi dengan sertifikasi dan persyaratan tertentu. Seperti bobot standar awal, jaminan bebas penyakit tertentu dan kualitas induknya. Namun demikian, oleh karena faktor yang mengitari di sisi masa produksi bibit sangat banyak, maka setidaknya standar terendah yang bisa ditoleransi harus terpenuhi. Misalnya bobot awal bibit”, ujar Rama yang berniat melanjutkan pendidikan di Australia itu.

Lebih lanjut Rama menjelaskan, bahwa harus diketahui dan dipahami oleh para peternak, bahwa memang aspek ke”ajegan” atau stabilitas kualitas DOC relatif tidak akan mungkin terjadi. Sehingga sangat wajar bila kemudian peternak mengeluhkan adanya perbedaan produktifitas walaupun dengan merk yang sama. Terlebih dengan merk yang berbeda, sudah pasti akan menjadi lebih lebar deviasi perbedaan itu.

Menurutnya, ia sering menerima informasi dan keluhan dari peternak tentang naik dan turunnya produktifitas maupun performans. Selalu ia jelaskan hal itu, bahwa tidak ada satupun jaminan pasti kestabilan kualitas DOC. Namun demikian, yang justru lebih penting bagi peternak sebagai konsumen, adalah berupaya dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki cara pengelolaan.

“Wong tidak ada ruginya koq seandainya kita terus berusaha untuk meningkalkan manajemen pemeliharaan. Dan disitulah kunci memasuki keuntungan yang jauh lebih besar”, ujar Rama.

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif
Illustrasi DOC

Ketika disodorkan kenyataan bahwa ada aspek penting yang lain yang sangat mempengaruhi keuntungan peternak yaitu harga jual hasil produksi. Rama menjawab, bahwa hal itu jelas sangat tergantung akan tingkat penawaran dan permintaan. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan kualitas DOC.

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, seorang praktisi peternakan kawasan Wonogiri Jawa Tengah dan Wonosari mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya, kualitas bibit memang dirinya sudah memahami. Kestabilan kualitas DOC memang sangat sulit untuk diperoleh dari satu periode ke periode berikutnya.

Meski demikian, selama ini justru ia mencoba menyiasati dengan cara pengelolaan yang selalu berubah. Pengertian berubah itu, menurut Dhanang adalah selalu mencoba memberikan perhatian yang berlebih dan selalu meningkatkan dari periode ke periode. Bahkan, ujar Dhanang, dirinya selalu membaca dan mengamati perilaku peternak lain. Jika dalam periode ini, para peternak mengerem atau mengurang populasi dari merk tertentu oleh karena periode kemarin/sebelumnya dimana kualitasnya “kurang baik”, kemudian mengganti dengan merk lain yang dipandang lebih baik. Maka ia justru menjatuhkan pilihan bibit/DOC yang kurang disenangi para peternak umum.

Bukan saja pilihan itu oleh karena harganya jauh lebih murah, karena jenis DOC sore hari alias kurang laku, namun justru menurutnya itu sebuah tantangan untuk membuktikan hahwa sebenarnya ada aspek lain yang lebih penting yaitu pengelolaan. Menurutnya, manajemen pemeliharaan yang selama ini diserahkan secara lepas oleh para peternak kepada pekerja kandang, adalah kekeliruan besar. Terlebih jika DOC itu termasuk DOC yang dimarjinalkan/ditolak halus para peternak. Maka harus ada perhatian yang lebih dari cara pengelolaan selama ini. Hasilnya, menurut Dhanang selama ini tidak ada masalah, bahkan selalu mencapai hasil yang memuaskan. “Ini fakta lho… bukan isapan jempol”, tutur Dhanang meyakinkan Infovet.

Urusan harga jual pasar yang naik turun, itu memang akan dialami oleh semua peternak. Artinya meskipun mereka memakai bibit yang sedang favorit pada periode itu, toh masalah harga jual juga mengikuti mekanisme pasar. Oleh karena itu jika kita menjatuhkan pilihan dengan bibit/DOC yang kurang favorit pada suatu periode, dengan harga di bawah harga pasar, namun dengan sistem dan cara pengelolaan yang benar, akhirnya hasil akhir sama saja dengan yang memakai bibit favorit.

Kemudian datang pendapat lain dari Misaljo dan Drs Irwanto, yang berprofesi sebagai pemasar bibit ayam/DOC. Menurut Misaljo, yang juga menjadi agen aneka DOC ayam negeri maupun ayam kampung bahwa dirinya terlalu sering menerima keluhan yang beraneka dengan substansi keluhan yang sama yaitu performans kurang baik.

Bibit Ayam Potong Merk “A” dan “B“ pada periode ini menunjukkan hasil baik, yaitu cepat tumbuh besar, konsumsi pakan efisien, angka kematian rendah. Sedangkan Merk “C” dan “D” serta “E” sebaliknya yaitu angka kematian tinggi, kurang efisien pakan serta lambat tumbuh, ayamnya kerdil. Begitu juga dengan ayam petelur, dengan ragam keluhan masa produksi lambat, tingkat kematian tinggi dan masa produksi pendek/cepat afkir, puncak produksi sangat pendek.

Namun ternyata periode berikutnya bisa berbalik. dimana DOC merk “A” dan “B” performansnya sangat buruk sekali. Dan sebaliknya merk “C” dan “D” justru menjadi lebih baik. Sedangkan merk “E” tetap buruk performansnya.

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif
Illustrasi DOC

Sebagai penjual DOC, memang dirinya akan selalu menerima dan berhadapan secara langsung dengan keluhan itu, oleh karena itu menurutnya para produsen memang harus selalu menjaga kualitasnya, agar dirinya yang termasuk penghubung antara produsen dengan peternak tidak terus terteror dengan masalah itu. Lebih dari 20 tahun sebagai penjual DOC, Misaljo akhirnya menganggap keluhan itu menjadi kurang begitu direspon jika berhadapan dengan peternak. Sedangkan Irwanto yang baru menekuni itu sekitar 10 tahun terakhir ini, masih selalu risau jika dikomplain oleh peternak.

Misaljo akhirnya mengambil jalur tengah dengan siap selalu menerima keluhan dan keluhan itu ia sampaikan lagi ke agen pemasok. Masalah itu menjadi perhatian atau tidak bagi Misaljo itu bukan soal. Sebab Misaljo sudah faham benar akan fluktuasi kualitas DOC selama ini. Bahkan menurutnya, sejak ada wabah AI, kualitas DOC ayam petelur sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kualitas sebelum merebak wabah AI.

Menurut Misaljo atas dasar laporan para peternak pelanggannya, bahwa usia awal produksi ayam pasca wabah AI menjadi lebih lambat, alias tertunda dan mundur. Begitu juga dengan puncak produksi yang relatif lebih pendek. Ayam lebih sering mengalami gangguan kesehatan serta yang meresahkan adalah usia produksi lebih pendek. Katanya ayam petelur dan potong sekarang adalah ayam modern, ternyata justru lebih rendah performansnya dari pada ayam klasik atau masa lalu.

Hal yang sama dirasakan oleh Haji Saelan, peternak ayam potong di Tegal Jateng, bahwa produktifitas ayam potong sekarang jauh dibawah performans ayam potong masa 10 tahun yang lalu. Apakah ini oleh karena akibat penyakit AI atau karena memang kualitas pakan yang ada saat ini kurang baik. Padahal harga pakan terus bergerak naik dari waktu ke waktu. Jika bukan oleh karena pakan, tentunya bibitnya yang harus dipertanyakan tentang kualitas baik buruknya.

Sedangkan Dhanang dan Rama berpendapat memang benar pasca wabah AI masuk Indonesia, harus diakui adanya penurunan performans ayam komersial. Menurut Dhanang, tidak bisa dibantah, bahwa produsen bibit/DOC juga pasti terkena imbas wabah AI, sehingga ibarat pabrik, mesinnya juga kena, sudah pasti hasil produksinya akan terpengaruh juga. Beberapa produsen mungkin akan tetap mencoba menekan pengaruh buruk dari libasan penyakit AI itu, sehingga produk DOC nya masih relatif lebih sama. Sedangkan yang lain meski sudah berupaya namun barangkali gagal mencapai tujuan, akhirnya DOC yang diproduksi kurang seperti yang diharapkan.

Menurut Rama, keluhan yang ia terima tentang produktifitas dan kualitas DOC memang bersitat linier atau terkait langsung. Dimana akibat wabah AI 5-6 tahun yang lalu itu, para produsen DOC masih belum berhasil juga melepaskan pengaruh buruknya. Terkait dengan lambat pertumbuhan dan lambat produksi adalah indikator penting yang tidak bisa dibantah akan adanya pengaruh buruk itu yang masih melekat. Untuk itu peternak hanya ada satu jalan yaitu selalu meningkatkan dan meningkatkan cara budidayanya.

Infovet, Oktober 2009

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif

The post Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/feed/ 1 823
Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/ http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/#comments Wed, 11 Mar 2015 16:07:27 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=818 Memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Pakan pada ternak adalah ibarat BBM (Bahan Bakar Minyak) pada mesin sebuah kendaraan. Jika saja tercampur baur dengan bahan lain sudah pasti akan menyebabkan jalannya mesin tersendat bahkan ...

The post Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Pakan pada ternak adalah ibarat BBM (Bahan Bakar Minyak) pada mesin sebuah kendaraan. Jika saja tercampur baur dengan bahan lain sudah pasti akan menyebabkan jalannya mesin tersendat bahkan bisa mogok.

Begitu juga dengan pakan yang mulai kandungan gizinya sangat tinggi, maka tidak saja sangat bermanfaat dan disukai ayam, akan tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi mikroorganisme untuk tumbuh berkembang dengan cepat.

Jika saja mikroorganisme itu, sebut saja jamur tercampur baur dan berkembang, maka bukan saja menyebabkan kualitas pakan menurun atau terdegradasi. Akibatnya seperti halnya dengan mesin kendaraan, maka bukan saja ayam menjadi terhambat pertumbuhannya akan tetapi juga bisa berakhir dengan sakit dan mati.

Berbicara pakan berbaur dengan jamur pada pakan unggas ternyata persoalan menjadi lebih ruwet dibanding esensi dan substansi persolaan itu. Juga bagaimana upaya dan apa yang seharusnya dilakukan. Harus diakui peternak yang sekarang ini masih bertahan memang termasuk peternak pilihan dan cerdas-cerdas. Hal ini dialami oleh Infovet ketika mencoba mengorek masalah jamur pada pakan.

Pengalaman yang sama diutarakan oleh para TS, pendamping lapangan kepada Infovet. Oleh karena itu sebenarnya hal ini merupakan indikator baik, semakin bergerak maju dan profesionalnya para peternak.

Akarnya pada Pakan Pabrikan ?

“Ngomongin jamur sebenarnya adalah membahas sesuatu yang tidak terlihat tetapi nyata kelihatan bentuk kerugian yang akan ditanggung para peternak. Pabrikan pakan jika memang tulus, tidak perlu memberi ‘bonus’ akan tetapi cukup harga pakan yang wajar dengan kondisi riil lapangan. Bonus yang saya maksud adalah terlalu sering pakan dari pabrik sudah mengandung bibit jamur”, ujar Sumardiman kepada Infovet di kandangnya di kawasan Pegunungan Pajangan Bantul Yogyakarta.

Lebih lanjut Sumardiman. menjelaskan bahwa masalah jamur tidak bisa disalahkan dan ditimpakan kepada peternak. Sebab sejatinya, kontaminasi jamur dan bibit jamur sudah ada sejak dari pakan itu dibuat. Meski benar, didalam proses pengolahan sudah diupayakan bahan bebas dari jamur. Namun siapa yang bisa menjamin kemudian pakan itu bisa bebas dari jamur.

Pakan Ayam

Bonus dalam tanda petik, adalah tercemarnya pakan yang diterima oleh peternak dengan jamur. Kalau boleh berbicara serius, memang pada batas ambang atau toleransi tertentu jamur masih bisa dibiarkan alias ditolerir, karena tidak menyebabkan masalah pada ayam.

Namun tidak bisa ada pihak manapun yang bisa membantah bahwa memang benar pada saat itu saja, jumlah koloni memang masih sedikit. Akan tetapi jika memasuki musim hujan, terlebih seperti tahun 2007-2008 ini, bukankah merupakan lingkungan kondusif bagi jamur untuk berbiak dan berbaur di dalam pakan.

Sekecil apapun jumlah koloni itu jika kondisi lingkungan sangat mendukung maka, sudah pasti akan memunculkan masalah ketika pakan itu tiba di gudang para peternak. Kemudian umumnya menimpakan kesalahan munculnya jamur kepada para peternak, yang dikatakan gudangnya kurang baik atau apalah sejuta alasan yang buruk-buruk pada diri peternak.
“Biasanya dan umumnya ketika muncul kasus penyakit yang diduga disebabkan oleh jamur maka pihak produsen pakan jarang mau mengakui akar masalah di pihaknya akan tetapi kita, para peternak yang dikambing hitamkan”, ujar Sumardiman sengit.

Kiranya mencermati keluhan dan gugatan dari Sumardiman ini, akan lebih baik jika pihak feedmill memberikan penjelasan. agar tidak muncul curiga dan prasangka yang sebenarnya muncul karena misskomunikasi semata. Kita tunggu suara dari pabrikan mendengarkan pendapat Sumardiman itu.

Sumardiman sendiri ketika melihal pakan yang diperuntukkan bagi ayamnya jika sudah terindikasi tercemar jamur, maka pilihannya hanya membakar agar tidak menjadi masalah baru di kandangnya. Langkah itu ditempuh agar tidak disalahgunakan pekerja kandang dengan dijual atau justru diberikan ke ayamnya yang akan beresiko tinggi pada farmnya.

Sebagai peternak ayam petelur yang memulai usahanya dari nol, Sumardiman yang pernah bekerja di sebuah farm besar di Kalimantan itu sangat mafhum sekali dengan pakan yang tercemar jamur. Hasil pengamatannya selama ini, manifestasi pakan jika tercemar jamur, akan tetapi belum kasat mata, maka andalannya dengan melihat indikasi ayam ketika makan dan minum.

Menurut Sumardiman, jika pakan sudah bercampur baur dengan jamur, maka ketika ayam mengkonsumsi pakan sebentar-sebentar minum. “Pokoknya, cara mudah atas dasar pengalaman saya jika ayam mematuk pakan 1-2 kali kemudian diikuti minum berkali-kali maka itu indikasi kuat pakan sudah tercampur jamur meski belum terlihat oleh mata kita.” ujarnya.

Akibatnya Vaksinasi Tidak Optimal

Hal yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Tjuntoko, pengelola ayam layer di Sukorejo Jawa Tengah. Hal itu memang benar, ujar Tjuntoko lebih lanjut. Selain itu adalah aspek bau pakan sangat tidak enak. Terutama jika jamur sudah begitu banyak muncul di dalam pakan. Cara menekan agar jamur tidak secara cepat mencemari stock pakan yang lain adalah dengan pemberian obat anti jamur dalam pakan. Tjuntoko biasa memakai merk X yang mengandung bahan aktif propilen glikol dan kalsium propionate.

Vaksinasi

Sedangkan cara pengobatan ayam yang kemudian sakit akibat pakan seperti itu, tidak ada yang lain selain pemberian multivitamin dan sangat perlu antibiotika untuk jaga-jaga adanya infeksi sekunder. Indikasi lain adanya jamur dalam pakan adalah jika itu berlangsung lama, maka biasanya hasil vaksinasi tidak optimal. Artinya meski program vaksinasi berjalan baik, seperti yang disarankan namun sudah pasti kemampuan memprotek penyakit kurang baik.

Harga dan Kualitas Tidak Sepadan ?

Sedangkan Kartinah. peternak ayam potong di Magelang merasa heran dengan harga pakan yang terus melangit akan telapi kualitasnya tidak sepadan. Dalam awal tahun 2008 ini saja, menurutnya sudah lebih dari 2 kali mengalami kenaikan. Istilah harga pakan yang sering disebut “subsidi harga” sebenarnya telah membuat dirinya bingung. Katanya harga tidak berubah akan tetapi oleh karena pihak pabrikan mencabut subsidi, maka harga sebenarnya juga naik.

“Wong mau bilang naik saja. kenapa mesti bilang subsidinya dicabut”, tegasnya. Sebenarnya lanjut Kartinah bahwa hal itu bukan masalah besar, jika saja kenaikan harga diimbangi dengan peningkatan kualitas. Kartinah semakin bingung, ketika nilai tukar dollar menguat, harga juga ikut naik. Akan tetapi denger-denger nilai dollar melemah alias turun, tetapi tetap saja naik dengan alasan. harga minyak melangit.

Benar juga keluhan kualitas dan korelasinya dengan harga. Akan tetapi hal itu dijelaskan bahwa kemungkinan turunnya kualitas karena musim penghujan, sehingga bahan baku berkualitas buruk, juga dampak dalam pengangkutan yang terus diguyur hujan, bahkan banjir.

“Banyak penjelasan yang tidak jelas, tetapi semakin membingungkan. Karena kata, para petugas saya di lapangan kasus pakan yang buruk menyebabkan ayam tidak tumbuh besar, tetapi sebaliknya. Bahkan senyatanya banyak kasus penyakit yang menurut dugaan saya yang tidak tabu kesehatan hewan, itu pasti karena DOC dan Pakan yang tidak berkualitas”, ujarnya dengan nada keras.

Menurut Kartinah lebih lanjut, mau jamur atau kuman virus, yang jelas hasil panennya sangat buruk sekali. Tidak ada lain jika ayam tidak bertambah besar pasti karena penyebabnya pakan semata. “Ini pikiran orang bodoh seperti saya, Kalau sampeyan bilang itu mungkin karena jamur, naluri bodoh saya yang tetap saja karena pakannya jelek. Titik.” ujar Kartinah semakin menggebu.

Tidak Semata Soal Pakan

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, terlalu sederhana menyebut pakan sebagai biang keladi gagalnya penen ayam yang berbobot. Sebab sebagai peternak yang juga Tenaga Pendamping lapangan dari PT Biotek, masalah lambatnya pertumbuhan pada ayam potong tidak semata karena kualitas DOC dan pakan semata.

Terlalu kompleks dan banyak aspek yang melingkupi. Pengalamannya selama ini, ketika banyak orang menolak memelihara ayam dari sebuah merk tertentu karena diduga DOC nya kurang baik, ternyata Dhanang justru tertantang untuk mencoba itu.

Hasilnya, justru tidak kalah dengan merk lain yang menurut para peternak berkualitas baik. “Secara ekstrim saya pernah mencoba memelihara ayam dari DOC polos yang sudah pasti berkualitas kurang baik. Akan tetapi ternyata hasilnya sangat baik. Ini bukan klaim saya tetapi para bakul ayam besar yang mengomentari hasil ayam saya itu”, ujarnya penuh percaya diri.

Juga ketika orang rame-rame menyebut pakan merk X kualitasnya buruk, justru Dhanang tertantang untuk membuktikan. Ini bukan isapan jempol, lanjut Dhanang karena hasilnya juga cukup baik, sekedar untuk tidak mengatakan sangat baik.

Berbicara masalah jamur dalam pakan, menurutnya hal itu sangat sulit untuk membuat sebuah kepastian. Untuk pakan yang bebas dari jamur tentu sebuah keniscayaan. Begitu juga, apakah mesti jamur itu akan menyebabkan sebuah gangguan pertumbuhan apalagi penyakit, tentu juga ada aspek lain yang mendukung.

Kemudian jika berbicara pada ayam petelur, tidak berbeda jauh dengan ayam potong, bahwa untuk munculnya gangguan produktifitas ataupun pada kesehatan ayam. maka tergantung kepada pengelolanya.

Mestinya ketika musim hujan seperti saat ini, tidak boleh peternak dengan seenaknya dan lengah dalam pemberian preparat anti jamur. Sebab kapan sebuah preparat itu dibutuhkan tergantung dari improvisasi dan kecerdasannya.

Memang benar jamur muncul kapan saja. Musim penghujan ataupun ketika kemarau. Artinya lanjut Dhanang, intensitas perhatian pengelolaan pakan dalam menghadapi kemungkinan penurunan kualitas harus diperhatikan sangat cermat.

Secara sederhana, menurutnya, jika musim penghujan yang berjalan dalam periode agak panjang seperti awal tahun 2008 ini, maka sudah pasti perlunya pemberian preparat anti jamur dalam pakan. Peternak dapat memilih merk yang paling sreg di hatinya.

“Pengertian saya tentang kualitas pakan dan kontaminan jamur, sangat bergantung kepada para peternak ataupun para manajer farm dalam menyikapinya. Jika musim hujan seperti saat ini, pemberian preparat anti jamur dalam pakan tentu sebuah keharusan, meski gudang yang digunakan sudah sangat representatif. Oleh karena itu jika gudang pakan, di bawah standar, maka tidak ada solusi lain tentang perlunya preparat anti jamur pada pakan”, ujarnya semakin percaya diri.

Obat Anti Jamur Meningkat

Bagaimana kaitan musim hujan di mana potensi pakan berjamur dengan outset penjualan obat anti jamur ?. Mungkin Misaljo dari Samudera PS Kulon Progo setidaknya dapat mewakili penjual sapronak mempunyai jawaban. Menurutnya, omset penjualan obat-obatan selama tahun 2007 sampai awal tahun 2008 tidak banyak berubah alias tetap sepi-sepi saja.

Samudera PS yang banyak melayani para peternak ayam petelur skala mikro di kawasan itu, memang menyediakan secara lengkap aneka kebutuhan sapronak perunggasan. Ketika ditanyakan apakah benar ada permintaan lonjakan obat anti jamur yang dicampur dalam pakan selama musim penghujan ini, Misaljo hanya menggelengkan kepala.

“Wah sepi benar sekarang ini. Sejak tahun lalu (maksudnya 2007) sampai menginjak bulan kedua tahun 2008, omset secara keseluruhan tidak banyak beranjak bahkan ada kecenderungan turun”, ujarnya pelan.

Namun memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Akan tetapi, Misaljo dengan tegas mengakui bahwa bisnis sapronak perunggasan selama 5 tahun ini semakin sepi saja. Benarkah ?

Sumber : Infovet, Maret 2008

Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur

The post Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/feed/ 1 818
AI (Avian Influenza) Terbaru Terus Memburu Dan Diburu http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/ http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/#comments Thu, 05 Mar 2015 17:05:30 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=812 Muncul AI (Avian Influenza) gejala baru ? Infovet melakukan investigasi serentak pada peternak, praktisi, dan ahli di borbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya ? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI (Avian Influenza) tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus AI (Avian Influenza) tahun 2003-2004. Ayam Potong Tidak Terbebas Awalnya para pedagang ...

The post AI (Avian Influenza) Terbaru Terus Memburu Dan Diburu appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Muncul AI (Avian Influenza) gejala baru ? Infovet melakukan investigasi serentak pada peternak, praktisi, dan ahli di borbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya ? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI (Avian Influenza) tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus AI (Avian Influenza) tahun 2003-2004.

Ayam Potong Tidak Terbebas

Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.

Kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.

Beberapa waktu lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI (Avian Influenza) hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dan sergapan.

Dengan semakin merebaknya kasus AI (Avian Influenza) pada ayam potong, menyebabkan hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangsung cukup lama. Menurut Catatan Infovet selama lebih dari 6 minggu harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.

Drh. Wakhid N. dari PT Vaksindo Satwa Nusantara mengungkapkan kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.

Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional, diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca.

Respon Peternak

Diceritakan oleh Wakhid banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.

Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Seperti diutarakan Ir Dhanang Purwantoro dan PT Biotek Jogja yang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor berumur 11 hari, nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarya sudah terserang penyakit AI (Avian Influenza).

Argumen pemilik daripada menderita kerugian yang lebih besar di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Langkah itu menurut pandangan umum adalah sebuah langkah “gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.

Kasus tersebut membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.

Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kccil yaitu total populasi 4.500 ekor.

Ir Agus W alias “Suwingi” petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.

Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI (Avian Influenza).

Ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja, tapi 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Sava menduga hal itu mungkin karena ND. Namun kemudian ada sejawat Dokter hewan mendiagnosa kasus penyakit itu tak lain adalah AI (Avian Influenza)“, ujar Agus.

Gejala Klinik Berbeda

Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI (Avian Influenza) pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.

Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peterak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.

Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI (Avian Influenza) pada ayam pedaging mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah 1/2 dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 hari, tidak menunjukkan kena AI (Avian Influenza).

Menurut Drh Damar, kasus AI (Avian Influenza) semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.

Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI (Avian Influenza) yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI (Avian Influenza) yang telah dikenal.

Pada kasus AI (Avian Influenza) yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.

Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh sangat panas. Kasus AI (Avian Influenza) di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.

“Kelihatannya AI (Avian Influenza) pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru”, Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.

Keiika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur, daerah tuba fallopii sangat panas. Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.

Masih H5N1 (Avian Influenza)

Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.

Namun virus H5N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Photogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza / Avian Influenza tipe tidak ganas).

Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.

Gambar Sumber : www.cdc.gov

 

Gambar Sumber : www.cdc.gov

 

Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini. menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah di vaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.

Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI (Avian Influenza) di mana ayam yang sudah vaksin AI (Avian Influenza) dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.

Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.

Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian ringan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.

Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam.

Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari. Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosccurity mulai kendor.

Kasus AI (Avian Influenza) pada ayam layer peternakan komersial, membuat peterak sangat tegang. Kematian ayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKHU UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.

Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada petrmakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI (Avian Influenza) pada tahun 2003 dan 2004.

Perubahan Molekular Serang Otak

Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino, 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.

Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama terhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu saja terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.

Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan prakarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.

Dr Drh CA Nidom MS yang kini juga Wakil Dekan III FKH Unair ini, menuturkan kasus AI (Avian Influenza) bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator di otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.

Menurut Dr Nidom, akibatnya ada dua kemungkinan yang terjadi pada ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.

Dr Nidom saat ini sedang mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!

Adapun menurut Drh Lies Parede MSc PhD dari Balitvet Bogor, mungkin virus HPAI H5N1 dari daerah-daerah yang disebutkan para narasumber tadi sudah mengalami rekombinasi, dengan perbedaan kecil dibanding kasus pada tahun 2003. Analisa akurat menunggu hasil pemeriksaan dan laboratorium biologi molekuler.

Tentang pantat ayam yang dimasuki jari orang, ia menjelaskan, suhu badan orang adalah 37 derajad Celsius, sedang badan ayam 41 derajad Celsius. Dengan dimasukkannya jari orang ke dalam pantat ayam sudah tentu akan sangat panas. Apalagi bila ayam dalam kondisi demam bersuhu 42-43 derajad Celsius.

Di samping itu Dr Lies menganjurkan untuk perlakuan itu supaya berhati-hati sebab tangan itu dapat memasukkan kuman ke dalam tubuh ayam dan dapat mengakibatkan infeksi Salphingitis.

Menurutnya, serangan virus HPAI H5NI mengakibatkan septisemia dengan peradangan sistemik pada multi organ interna maupun eksterna. Maka timbulah demam seperti interleukin, TNF (Tumor Nekrosis faktoe Alfa), PGE-2 (Prostaglandin E-2) dan lain-lain.

Menurut penelitian Lab Patologi FKH IPB, sepanjang tahun 2003-2007 kasus HPAI H5N1 menimbulkan kerusakan patologi makro dan mikro yang sama, perdarahan multifokus organ, di antaranya ovum dari ovarium ayam yang bertelur dan enchepalitis pada otak dari multifokus nekrosis yang masih ditemukan.

Soal kerusakan otak ayam pada tahun 2003, sudah dikonfirmasikan oleh Lab Patologi FKH IPB dan BPPV Wates Yogyakarta dalam Konferensi Asosiasi Patologi Veteriner 2004 di Maros Sulawesi Selatan.

Analisa secara ilmiah virus tahun 2007 tersebut sudah mengalami rekombinasi. meski sifatnya masih serupa ganasnya dengan virus H5N1 tahun 2003. Sedangkan kejadiannya pada ayam juga masih serupa, yaitu pada ayam kampung, ayam aduan, ayam komersil petelur maupun pedaging dari berbagai umur.

Kembali ke Biosecurity

Soal pengendalian, menurut Dr Lies, sudah merupakan kenyataan bahwa virus HPAI H5NI dapat dikendalikan dengan vaksin, yaitu dengan vaksin holomog dan virus lapang. Dan pemilihannya, dianjurkan sebagaimana pencarian untuk vaksin pada manusia, vaksin AI (Avian Influenza) mesti cocok, program tepat dan murah terjangkau peternak.

Munculnya kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan nyata antara layer divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol dan tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.

Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah, Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI (Avian Influenza). Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI (Avian Influenza) lagi”, tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)

Sumber : Infovet, Mei 2007

AI (Avian Influenza) Terbaru Terus Memburu Dan Diburu AI (Avian Influenza) Terbaru Terus Memburu Dan Diburu AI (Avian Influenza) Terbaru Terus Memburu Dan Diburu

The post AI (Avian Influenza) Terbaru Terus Memburu Dan Diburu appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/feed/ 1 812
Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-sebuah-tuntutan-memenangi-pasar-asean/ http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-sebuah-tuntutan-memenangi-pasar-asean/#comments Mon, 02 Mar 2015 13:33:20 +0000 http://dhanangclosedhouse.com/?p=802 Efisiensi dan kualitas adalah sebuah keharusan dalam meningkatkan nilai tawar dan memenangi kompetisi pasar. Demikian juga dengan industri perunggasan domestik saat ini, terutama dikaitkan dengan era baru pasar bebas ASEAN pada akhir tahun 2015 mendatang. Jika kedua hal itu tak mampu ditegakkan, maka sudah pasti pasarlah yang ganti akan menggilas, dan kebangkrutan industri perunggasan di ...

The post Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
Efisiensi dan kualitas adalah sebuah keharusan dalam meningkatkan nilai tawar dan memenangi kompetisi pasar. Demikian juga dengan industri perunggasan domestik saat ini, terutama dikaitkan dengan era baru pasar bebas ASEAN pada akhir tahun 2015 mendatang.

Jika kedua hal itu tak mampu ditegakkan, maka sudah pasti pasarlah yang ganti akan menggilas, dan kebangkrutan industri perunggasan di Indonesia menjelma menjadi kenyataan.

Demikianlah paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tampil mempresentasikan pendapatnya di hadapan para investor dari sebuah Konglomerasi Grup Otomotif yang berminat dengan bisnis perunggasan.

Menurut Dhanang, sebagai seorang praktisi Closed House yang cukup dikenal handal di Indonesia itu, bahwa pada sebuah kegiatan bisnis apapun termasuk perunggasan jika telah melalaikan filosofi efisiensi dan kualitas, hal itu ibarat berada di medan perang, tanpa membawa bekal senjata dan amunisinya yang memadai. Akhirnya keinginan dan misi untuk memenangkan sebuah kompetisi hanyalah tinggal impian.

Dalam pasar bebas ASEAN yang segera akan berlaku di Negara Negara anggota persekutuan Asia Tenggara itu, maka perdagangan barang dan jasa akan dibebaskan tarif bea masuk, kecuali memang ada produk tertentu. Kesepakatan pasar terbuka alias pasar bebas ASEAN itu memang akhirnya memaksa dan menuntut adanya jaminan kualitas dan efisiensi. Sebab, disamping masalah harga yang akan menjadi komponen penting dalam kompetisi, maka kualitas adalah komponen lain yang tak dapat ditinggalkan.

Dunia usaha perunggasan Indonesia, selama ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Baik dalam volume skala usaha maupun distribusi keberadaan geografisnya. Peternak dalam negeri selama ini masih diuntungkan dengan belum begitu signifikan produk dari Negara lain, sehingga harga jual hasil produksinya berupa telur dan daging ayam serta ikutannya, relatif “terjaga”. Istilah terjaga dalam tanda petik ini, lebih menjelaskan kondisi bahwa jika saja produk unggas dari negeri manca menyerbu, maka habislah masa depan bisnis perunggasan Indonesia.

Namun sejalan dengan telah diratifikasinya pasar terbuka wilayah regional ASEAN, maka iklim yang selama ini terlihat begitu dinikmati secara nyaman, maka kini menjadi terusik. Pelaku usaha bisnis perunggasan tidak lagi bisa mengandalkan pasar didalam negeri, namun juga harus siap bersaing secara terbuka dengan industri perunggasan dari Negara Negara ASEAN.

Sekali lagi Dhanang menekankan bahwa efisiensi dan kualitas adalah sebuah persyaratan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan peternak ayam dalam negeri meskipun hampir 10 tahun terakhir ini harus berjibaku dengan kenaikan ongkos produksi yang terus beranjak naik, juga sergapan aneka penyakit.

Sebuah sistem dan cara memelihara yang selama ini masih banyak peternak ayam di Indonesia lakukan adalah dengan kandang sistem terbuka, maka resikonya sangat besar dan jaminan kualitas produknya sangat rentan. Untuk itu meskipun masih belum begitu banyak peternak ayam di Indonesia yang mengaplikasikan kandang sistem tertutup (Closed House), namun sudah mampu memberikan pengaruh positif terhadap peternak lain yang masih dengan kandang konvensional atau terbuka. Peternak ayam yang masih menggunakan sistem konvensional sedikit demi sedikit telah mulai bermigrasi menerapkan Closed House. Meskipun pelan, akan tetapi secara faktual terus bertambah.

Oleh karena itu, budidaya perunggasan di Indonesia menjelang pasar bebas ASEAN itu, masih sangat prospektif. Sebuah peluang besar bagi para investor baru untuk tampil menjadi pemimpin bisnis unggas di tingkat domestik maupun di kawasan regional.

Dhanang Closed House Properties
Breeding Farm Yogyakarta – Dhanang Closed House

Dhanang menjelaskan bahwa Closed House adalah salah satu cara budidaya ayam modern dengan sistem kandang tertutup yang banyak memberikan keuntungan. Bukti selama ini menunjukkan bahwa Closed House bukan saja memberikan sejumlah lipatan keuntungan yang nyaris 2,5 kali lipat dibandingkan dengan kandang konvensional. Selain itu juga mampu menekan resiko kerugian yang diakibatkan oleh sergapan aneka penyakit dan performans ayam yang buruk. Populasi ayam dalam kandang Closed House nyaris mengalami pertumbuhan yang seragam dan bagus dalam pencapaian bobotnya. Sehingga secara kualitas ayam yang berasal dari kandang Closed House memang relatif lebih bagus. Ayam yang dipelihara dalam kandang Closed House tumbuh dengan nyaman serta efisien dalam mengubah pakan menjadi bobot badan.

Beberapa keunggulan budidaya ayam modern dengan mengaplikasikan kandang Closed House antara lain adalah pemanfaatan luas lahan yang jauh sangat efisien, sebab untuk luas lahan dalam kandang Closed House bisa menampung 17 ekor ayam per meter persegi. Sedangkan untuk kandang konvensional hanya mampu menampung kapasitas 7-10 ekor saja. Bahkan jika kemudian konstruksinya dibuat bertingkat (tumbuh vertikal), maka berarti mampu menampung 48-51 ekor.

Manfaat utama yang selama ini dirasakan oleh peternak yang baru beralih dari kandang konvensional ke kandang Closed House adalah kasus wabah penyakit relatif dapat ditekan. Sehingga dalam 1 (satu) periode pemeliharaan tingkat kematiannya hanya berkisar 1-2% saja. Sedangkan pada kandang konvensional tingkat kematiannya rata-rata selalu diatas 5%.

“Bayangkan jika populasi dalam kandang Closed House dengan kapasitas 21.000 ekor saja. maka jumlah ayam yang mati hanya sekitar 420 ekor dalam setiap panen (ini saja dihitung dengan tingkat mortalitas paling maksimal 2%). Secdangkan pada kandang konvensional, jumlah ayam yang mati hampir pasti diatas 1050 ekor. Bahkan jika mortalitas pada angka moderat (10%), maka berarti menembus angka 2.100 ekor”, jelas Dhanang.

Jumlah 2.100 ekor itu jika dikonversi ke nominal Rupiah, maka menurut Dhanang berarti peternak sudah kehilangan uang atau menderita kerugian sebanyak Rp. 94.500.000, (dengan catatan bobot ayam 1,8 kg/ekor dan asumsi harga ayam hidup Rp. 25.000/ekor).
Sebuah angka yang sangat besar dan bermakna, bahwa aplikasi kandang Closed House akan mampu menambah keuntungan yang sangat menggiurkan. Masih ada beberapa kelebihan dan keuntungan yang sangat menjanjikan dengan aplikasi Closed House pada budidaya ayam modern. Namun memang kendala utama adalah pada besarnya nilai investasi untuk kandang sistem tertutup ini.

Menurut Dhanang, nominal dana yang dibutuhkan untuk investasi khusus untuk kandang dan peralatan tanpa lahan / tanah dan listrik, berkisar Rp. 1,4 s/d 1,9 Milyar. Meski untuk investasi yang demikian besar itu, sejatinya menurut pakar Closed House Indonesia ini, bahwa jangka waktu untuk kembalinya modal (ROI, Return On Investment) hanya berkisar 2,5-3 tahun saja. Artinya setelah pada tahun ke-4 dan selanjutnya, peternak akan menikmati hasil yang cukup menggiurkan. Terlebih lagi pasar untuk daging ayam pada era perdagangan bebas regional ASEAN akan semakin terbuka.

Disamping itu pasar dalam negeri yang masih potensial untuk menyerap lebih banyak lagi oleh karena realitasnya standar nilai kecukupan gizi penduduk Indonesia masih terlalu jauh dari standar yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Aplikasi Closed House pada budidaya ayam di Indonesia akhirnya menjadi sebuah keharusan jika tak ingin dirangsek oleh gelontoran daging ayam dari Negara lain.

(Sumber : Infovet, Nov 2014)

The post Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN appeared first on Dhanang Closed House.

]]>
http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-sebuah-tuntutan-memenangi-pasar-asean/feed/ 1 802